Sertifikasi Penggiat Outbound : babak baru keilmuan experiential learning di Indonesia

_DSC0483

Yogyakarta – Tanggal 1 dan 2 desember 2015 diadakan uji kompetensi/sertifikasi penggiat Experiential Learning (baca : outbound) yang diselenggarakan oleh LSP Pramindo. Uji kompetensi yang didukung penuh oleh pemerintah – dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif -, diselenggarakan di 2 lokasi yaitu Wisma Grha Kinasih dan Kaligriya Kaliurang.

Untuk kegiatan kali ini, keseluruhan proses dan teknis pelaksanaan uji kompetensi di fasilitasi oleh rekan-rekan dari DPD AELI DIY dan juga beberapa penggiat Experiential Learning (EL) di DIY. Dihadiri oleh sekitar 34 penggiat Experiential Learning yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY yang dibagi dalam 2 batch. Assessor  atau penguji yang terlibat dalam uji kompetensi di DIY adalah Bp Kresno Wiyoso, Bp Soel Winarno, Bp Yudhi Irawan, Bp Ageng Aditya, dan Bp Yuniga Fernando.

Penyelenggaraan sertifikasi merupakan bagian dari pengembangan kompetensi atau keilmuan Experiential Learning di Indonesia. Dian Wibowo, sekretaris DPD AELI DIY mengungkapkan “melalui uji kompetensi, para penggiat EL menyadari level atau kemampuan pribadi utamanya untuk kegiatan Experiential Learning”

Adapun level yang digunakan dalam uji kompetensi adalah level Muda, Level Madya dan Level Utama. Secara singkat penjelasan ketiga level ini, yaitu

  1. Level muda ditujukan bagi penggiat yang memiliki kompetensi di program rekreasi.
  2. level madya setara dengan instruktur di program rekreasi dan edukasi.
  3. level utama adalah penggiat yang berkompeten dalam merancang program baik yang tujuannya rekreasi maupun edukasi.

Demi menjaga kualitas dari tujuan uji kompetensi, para peserta diuji melalui 3 tahap atau metode pengujian yaitu wawancara, uji tertulis dan uji praktek. 3 metode ini dibuat berdasarkan acuan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang telah disetujui oleh pemerintah dan ditandangani oleh menteri industri dan perdagangan, bapak Muhaimin Iskandar pada tahun 2011.

Diakui bahwa uji sertifikasi membuat beberapa penggiat mengalami kekhawatiran, “saya di awal sempat mengalami kekuatiran, namun sesudah mengikuti uji sertifikasi saya lega sekaligus menyadari banyaknya kekurangan yang saya miliki sebagai penggiat Experiential Learning” ungkap Samoel Gempita Nusa, salah seorang peserta uji kompetensi dari DIY.

*disadur dari aelijogja.wordpress.com