perbedaan antara outbound dan experiential learning di indonesia

ilustrasi teambuilding4

Waktu pertama kali terjun di dunia persilatan (sekitar tahun 2009), eh perotbonan maksudnya, saya masih menganggap bahwa outbound itu merupakan singkatan dari out of boundaries atau out of bond yang identic dengan kegiatan pelatihan atau team building. Seiring perkembangan waktu, saya menemukan juga bahwa outbound memiliki arti kegiatan senang-senang yang membutuhkan waktu relative lebih singkat, contoh amazing race  atau fun games yang berlangsung sekitar 3-4 jam atau bahkan 1 jam.

Istilah “outbound” pun mengandung beragam pengertian baik dari para penggiat outbound itu sendiri, maupun masyarakat umum. Hal ini juga terlihat dari salah satu hasil diskusi teman-teman penggiat EL jogja, di sesi SIUNG yang diselenggarakan teman-teman dari DPD AELI DIY, bahwa kata “outbound” memiliki beberapa pengertian, yaitu :

  1. Outbound identik dengan kegiatan yang sarat nuansa “adventure”, misalnya flying fox
  2. Outbound berasal dari kata “Out” dan “Boundaries”, yang artinya keluar dari batas, atau “out” dan “bond” yang artinya keluar/lepas dari ikatan
  3. Outbound dianggap sebagai bentuk kekeliruan melafal dari kata Outward Bound, yang merupakan nama dagang sekolah/penyedia jasa pengembangan SDM dimana metode pendidikan yang digunakan didominasi dengan kegiatan adventure (baca : sejarah outbound)
  4. Outbound adalah kegiatan travelling ke luar negeri
  5. Outbound dilandasi oleh konsep/metode experiential learning yang menekankan review dan sharing pada proses pembelajarannya
  6. Outbound menjadi alternatif atau bagian dari kegiatan rekreasi
  7. Outbound bisa dilakukan di dalam atau di luar ruangan.

Berdasarkan ragam pemahaman inilah, maka penting juga untuk mengupas keilmuan yang menjadi landasan berpikir dalam pelaksanaan kegiatan outbound. Salah satunya adalah experiential learning. Experiential learning merupakan sebuah filosofi dan metodologi yang melandasi kegiatan pembelajaran dengan focus pada refleksi dan pengalaman langsung dalam mengembangkan skill, pengetahuan dan objektif yang hendak dicapai. Experiential Learning lebih menjelaskan mengenai proses pembelajaran, bukan semata-mata hasil yang dicapai. (dikutip dari jurnal Experiential Learning, Northern Illinois University)

Didasarkan pertimbangan terminologi, sejarah keilmuan dan metodologi pembelajaran, yang dijadikan landasan kegiatan, ada 4 jenis program yang diklasifikasikan dalam kegiatan experiential learning (baca outbound), yaitu tipe program rekreasi, edukasi, pengembangan dan terapi.

outbound dan experiential learning

Nah, penjelasan yang singkat mengenai outbound dan experiential learning ini kemudian memudahkan penggiat atau lembaga penyedia jasa dalam mengembangkan produk kegiatan. Selain itu, kesenjangan pemahaman antara penyedia jasa dan klien diharapkan bisa difasilitasi dengan bentuk pengklasifikasian produk Experiential Learning.

Untuk Produk-produk outbound silahkan hubungi outbound kaliurang

 

referensi :

www.niu.edu/facdev

www.aelijogja.wordpress.com

simonpriest.altervista.org/OE.html#OT

modul orientasi anggota DPD AELI DIY. Cetakan terbatas. 2015

Comments are closed.